Opini
Penulis : Ardiyansah
Mahasiswa S3 Pendidikan, UAD Yogyakarta
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei tidak seharusnya dimaknai sekadar sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai momentum reflektif untuk menilai arah dan capaian pembangunan pendidikan nasional. Bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara, Hardiknas menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, inklusif, dan berakar pada kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun dan melestarikan peradaban. Arnold J. Toynbee dalam teorinya tentang peradaban menekankan bahwa kemajuan atau kemunduran suatu peradaban sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam merespons tantangan (challenge and response). Dalam perspektif ini, pendidikan berperan sebagai instrumen utama dalam membentuk kapasitas respons tersebut.
Sementara itu, Samuel P. Huntington melalui gagasan clash of civilizations mengingatkan bahwa identitas budaya dan nilai-nilai peradaban akan menjadi faktor penting dalam dinamika global. Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjaga identitas dan nilai-nilai budaya bangsa di tengah arus globalisasi.
Dalam kerangka otonomi daerah, pendidikan daerah menjadi arena strategis dalam menjaga keberlanjutan peradaban pendidikan. Kualitas pendidikan nasional pada dasarnya merupakan akumulasi dari praktik pendidikan di tingkat lokal. Oleh karena itu, pelestarian peradaban pendidikan sangat bergantung pada kapasitas daerah dalam mengelola dan mengembangkan sistem pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan.
Tantangan Pendidikan Daerah dalam Perspektif Peradaban
Pendidikan di daerah menghadapi tantangan yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga peradaban. Ketimpangan akses dan kualitas antarwilayah mencerminkan ketimpangan dalam kapasitas masyarakat untuk merespons tantangan zaman, sebagaimana dikemukakan oleh Arnold J. Toynbee.
Di sisi lain, dominasi pendekatan pembelajaran yang masih konvensional berpotensi menghambat lahirnya generasi yang adaptif dan inovatif. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya mampu menjadi ruang pembentukan peradaban yang dinamis.
Kesenjangan digital yang semakin nyata juga menghadirkan dilema. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat peradaban pendidikan, namun tanpa pengelolaan yang tepat, justru berpotensi menggerus nilai-nilai lokal, sebagaimana diingatkan dalam perspektif Samuel P. Huntington mengenai pentingnya identitas budaya.
Transformasi Pendidikan sebagai Respons Peradaban
Mengacu pada kerangka challenge and response, transformasi pendidikan daerah harus dipahami sebagai respons strategis terhadap berbagai tantangan yang dihadapi. Transformasi ini tidak hanya berorientasi pada perubahan sistem, tetapi juga pada penguatan nilai dan identitas peradaban pendidikan.
Pertama, pemerataan akses pendidikan berkualitas merupakan bentuk respons terhadap ketimpangan sosial. Kedua, penguatan kualitas pembelajaran menjadi upaya membangun kapasitas intelektual dan moral peserta didik. Ketiga, pengembangan profesionalisme guru menjadi kunci dalam mentransmisikan nilai-nilai peradaban.
Keempat, transformasi digital perlu diarahkan sebagai sarana penguatan peradaban, bukan sekadar adopsi teknologi. Kelima, tata kelola pendidikan berbasis data dan kolaborasi mencerminkan upaya membangun sistem pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.
Hardiknas sebagai Momentum Pelestarian Peradaban Pendidikan
Sebagai momentum strategis, Hari Pendidikan Nasional dapat dimaknai sebagai titik refleksi dalam memperkuat peran pendidikan sebagai penjaga peradaban. Hardiknas menjadi ruang untuk menilai sejauh mana sistem pendidikan mampu merespons tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara, seperti prinsip “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia sejak awal telah memiliki fondasi peradaban yang kuat, yaitu pendidikan yang berorientasi pada keteladanan, pemberdayaan, dan pembentukan karakter.
Momentum Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai ikhtiar kolektif dalam melestarikan peradaban pendidikan. Dalam menghadapi tantangan global, pendidikan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan individu yang kompeten, tetapi juga individu yang berakar pada nilai dan identitas budaya.
Dengan demikian, pendidikan daerah tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan pendidikan, tetapi juga sebagai penjaga dan pengembang peradaban bangsa di masa depan.
